Thursday, September 13, 2012

Cahaya kecil di tepi danau

Amarilis. suaranya begitu indah terdengar. layaknya judul komik asal Jepang yang pertama kali ku baca waktu masih kecil. Sore itu di sebuah gubuk di dekat danau aku menunggu beberapa orang temanku. hingga matahari tenggelam dan mereka masih sibuk dengan urusannya masing-masing. Aku berdiri, tetap menunggu. Ku yakin mereka tak kan lama lagi kan memanggilku. Tiba-tiba dari kejauhan pemuda itu menyapaku. Wajahnya yang lugu dan tampan membuatku merasa senang saat berbicara dengannya. Saat itu kita bercerita tentang permainan piano, dan kami bergurau.
Hanya sebentar saja . Tiba-tiba aku harus pergi, karena teman-temanku sudah menunggu. Lalu aku pergi meninggalkannya. Sayang sekali, aku tak sempat tau siapa dia dan darimana asalnya. Saat itu dia hanya menyebutkan sebuah pohon tua di bukit yang letaknya lumayan jauh dari tempat tinggalku. Di pohon tua itu, bersama sepeda kesayangannya dia bersandar sambil membuat lirik-lirik lagu yang indah.
Suatu sore, aku terkejut tak menyangka. Di depan pagar rumahku, aku menemukan selembar kertas. Ternyata itu adalah surat kaleng dari pemuda itu . Adit namanya. Nama yang sudah sering ku dengar. Namun baru kali ini aku melihatnya, bertemu dengan pemuda yang tak malu-malu menyapaku dengan senyum manisnya. Membuatku tak pernah melupakan awal pertemuan kita yang sama sekali tidak di sengaja. Aku senang sekali sore itu. Rasanya, aku mulai menyukainya. 
bersambung.............

No comments:

Post a Comment